Laman

PERMULAAN WAHYU KE 6

  6. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah  mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah  bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkan  kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya; bahwa Heraclius  menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke  Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan  Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya' mereka menemui Heraclius  atas undangan Heraclius untuk di diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama  dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraclius berbicara dengan mereka  melalui penerjemah. Heraclius berkata; "Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan  keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?." Abu Sufyan berkata; maka aku  menjawab; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia". Heraclius  berkata; "Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya." Maka mereka  meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraclius berkata  melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki  yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus  mendustakannya."Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan  mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya." Abu Sufyan berkata; Maka  yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam)  adalah: "bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?" Aku jawab: "Dia adalah  dari keturunan baik-baik (bangsawan) ". Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang pernah  mengatakannya sebelum dia?" Aku jawab: "Tidak ada". Tanyanya lagi: "Apakah bapaknya  seorang raja?" Jawabku: "Bukan". Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang  atau orang-orang yang rendah?" Jawabku: "Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang  yang rendah". Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku  jawab: "Bertambah". Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol  terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah  mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku  jawab: "Tidak pernah". Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab:  "Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu". Berkata  Abu Sufyan: "Aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini". Dia bertanya lagi:  "Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya". Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan  perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia  mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia". Dia bertanya lagi: "Apa yang  diperintahkannya kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah  dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan  oleh nenek moyang kalian. ' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat,  menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim". Maka  Heraclius berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya  kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan  bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku  tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang  dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang  mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya yang pernah  mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya ada yang dari  keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya dari keturunan  raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu  apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang  dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia  saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya  kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang  rendah?" Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka  itulah yang menjadi para pengikut Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah  bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang  begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu  apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada.  Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah  bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan  memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga sudah bertanya  kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian  untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan  melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan  shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim.  Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang  ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian  sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha  keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya pasti aku akan basuh kedua  kakinya. Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang  dibawa oleh Dihyah untuk para Penguasa Negeri Bashrah, Maka diberikannya surat itu  kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari  Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraclius. Penguasa Romawi, Keselamatan  bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan  Islam; masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala  kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu,  dan: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada  perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita  persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian  yang lain sebagai Rabb selain Allah". Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada  mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."  Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan  selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, sehingga  mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; "sungguh dia  telah diajak kepada urusan Anak Abu Kabsyah. Heraclius mengkhawatirkan kerajaan  Romawi."Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai  akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam. Dan adalah  Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius adalah seorang uskup agama  Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya' dia  sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari  keadaanmu. Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang  selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para  pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan  bintang-bintang, saya melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di  khitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda  risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda,  supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut di bunuh." Ketika itu di hadapakan kepada  Heraclius seorang utusan raja Bani Ghasssan untuk menceritakan perihal Rasulullah  shallallahu 'alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan  agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai di periksa, ternyata memang  dia berkhitam. Lalu di beritahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang  tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, di khitankah mereka ataukah tidak?" Dia  menjawab; "Orang Arab itu di khitan semuanya." Heraclius berkata; 'inilah raja ummat,  sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclisu berkirim surat kepada seorang  sahabatnya di Roma yang ilmunya setarf dengan Heraclisu (untuk menceritakan perihal  kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Sementara itu, ia meneruskan  perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari  sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius  bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu  mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah  semuanya hadir dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu.  Kemudian dia berkata; 'Wahai bangsa rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan  kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau,  akuilah Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai  liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraclius jadi  putus harapan yang mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad). Lalu di  perintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata;  "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan  hati anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan  Heraclius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraclius. Telah di  riwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri.