1. Dari Nawwas bin Sa’man, ia berkata:”Suatu pagi Rasulullah saw. bercerita tentang Dajjal, terkadang beliau memelankan suaranya dan terkadang mengeraskannya, sehingga kami menyangka Dajjal itu ada di kebun kurma. Ketika kami mendatanginya, beliau mengetahui keadaan kami, maka beliau bertanya:”Ada apa kalian?” Kami menjawab:”Wahai Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajjal, terkadang engkau memelankan suara dan terkadang mengeraskannya, sehingga kami menyangka Dajjal ada di kebun kurma.” Beliau bersabda:”Ketakutan kepada selain Dajjal adalah yang paling aku khawatirkan terhadap dirimu. Kalau dia dan aku masih ada di antara kalian, akulah yang berdebat dengannya untuk melindungimu, tetapi jika dia keluar dan aku tidak berada di antara kalian, maka setiap orang berdebat untuk menolong dirinya sendiri, dan Allah adalah penggantiku untuk setiap orang muslim. Dia (Dajjal) adalah seorang pemuda yang berambut keriting, matanya menyembul keluar, menurutku seperti Abdul Uzza bin Qathan. Oleh karena itu, siapapun di antara kamu yang bertemu dengannya, hendaklah membacakan permulaan surat Al Kahfi. Sesungguhnya ia keluar dari jalan antara Syam dan Irak, kemudian merusak kanan kirinya. Hai hamba-hamba Allah, tabahlah! Kami berkata:”Wahai Rasulullah, berapa lamanya ia beridam di bumi?” Beliau bersabda:”Empat puluh hari yang sehari seperti setahun, sehari lagi seperti sebulan, sehari lagi seperti seminggu, dan sisa-sisa harinya seperti hari-harimu.” Kami berkata:”Wahai Rasulullah, hari yang seperti setahun tadi, cukuplah bagi kami satu hari saja pada hari itu?” Beliau menjawab: ”Tidak. Jadi buatlah perkiraan untuk waktu shalat!” Kami bertanya:”Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?” Beliau menjawab:”Seperti hujan yang ditiup angin. Maka ia mendatangi suatu kaum lalu mengajak mereka, maka mereka beriman kepadanya dan mau menjawab ajakannya. Setelah itu ia memerintahkan langit (agar menurunkan hujan), maka langit pun menurunkan hujan, memerintahkan bumi (agar menumbuhkan tumbuhtumbuhan), maka bumi pun menumbuhkan tumbuhtumbuhan. Pada waktu sore gembalaan mereka pulang dengan punuk yang panjang, lambung yang berisi susu yang mengelayut. Kemudian pergi ke lain kaum mengajak mereka kemudian kaum itu menolaknya, maka Dajjal meninggalkan mereka. Pada keesokan harinya mereka mengalami paceklik, tiada suatu harta pun yang ada pada mereka. Kemudian Dajjal melewati suatu reruntuhan tersebut:”Keluarkan harta simpananmu,” maka simpanan tadi mengikutinya bagaikan gerombolan lebah. Setelah itu ia memanggil seorang pemuda lalu dipotongnya dengan pedang menjadi dua bagian dan dilemparkan sejauh sasaran, lantas dipanggilnya kembali, maka pemuda menghadap sambil tertawa dan wajahnya bersinar. Ketika ia dalam keadaan demikian, mendadak Allah mengutus Al Masih putra Maryam. Beliau turun di menara putih, sebelah timur Damaskus dengan mengenakan pakaian yang dicelup za’faran, dan meletakkan telapak tangannya pada sayap dua malaikat. Apabila beliau menundukkan kepada, air pun menetas dan jika mengangkat kepala, berluncuran air tadi bagaikan mutiara. Orang kafir mencium bau nafas beliau pasti mati, sedangkan nafas beliau dapat mencapai sejauh pandangan mata beliau. Kemudian beliau mencari Dajjal dan menemukannya di Babu Ludd (daerah dekat Baitul Muqaddas) lalu membunuhnya. Setelah itu beliau mendatangi kaum yang dijaga oleh Allah dari kejahatan Dajjal, beliau mengusap wajah mereka dan mengucapkan derajat mereka di surga. Ketika beliau dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah memberikan wahyu:”Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku, tiada seorang pun yang mampu membunuhnya, maka jaga dan kumpulkanlah hamba-hamba-Ku di gunung Thur.” Kemudian Allah membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj yang dengan cepat turun dari tempat-tempat yang tinggi. Ketika yang terdengar dari mereka melewati danau Thabariyah, mereka minum apa yang ada disitu. Dan tatkala barisan yang terakhir lewat, mereka berkata:”Sungguh di tempat ini pernah ada air.” Dan Nabiyyullah Isa dan sahabat-sahabatnya dikepung, sehingga kepala seekor lembu bagi mereka lebih baik daripada seratus dinar. Kemudian Nabiyullah Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah, maka Allah mengirim ulat ke tengkuk mereka (Ya’juj dan Ma’juj), sehingga mereka semua mati seperti matinya satu jiwa. Setelah itu Nabiyullah Isa dan sahabat-sahabatnya turun ke bumi. Mereka tidak menemukan sejengkal pun tempat di bumi kecuali telah dipenuhi bangkai Ya’juj dan Ma’juj yang berbau busuk. Maka Nabiyullah Isa dan sahabat-sahabatnya berdoa kepada Allah, maka Allah mengirim burung sebesar leher unta yang kemudian membawa mereka (Ya’juj dan Ma’juj) dan melemparkannya di tempat yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengirim hujan tadi mencuci bumi sampai bersih seperti kaca, lalu dikatakan kepada bumi:”Tumbuhkanlah buah-buahmu dan kembalikanlah berkahmu.” Maka pada hari itu serombongan orang memakan buah delima dan berteduh dengan kelopaknya, juga diberkahi air susu seekor unta yang cukup untuk serombongan orang, air susu seekor sapi cukup untuk satu keluarga. Ketika mereka dalam keadaan demikian, Allah mengirim angin yang harum yang bertiup di bawah ketika mereka, lalu mencabut nyawa setiap orang mukmin dan muslim, dan yang tersisa adalah orang-orang yang jahat yang melakukan persetubuhan seperti keledai (bersetubuh di depan umum tanpa rasa malu), maka pada masa mereka itulah kiamat terjadi.”(HR. Muslim)
2. Dari Rab’iy bin Hirats berkata: Saya pergi bersama Abu Mas’ud Al Anshariy ke tempat Hudzaifah bin Yaman ra., kemudian Abu Mas’ud berkata: ”Ceritakanlah kepadaku berita tentang Dajjal yang kamu dengar dari Rasulullah saw..” Hudzaifah berkata: ”Sesungguhnya Dajjal itu akan keluar dengan membawa air dan api. Adapun yang terlihat air oleh manusia, itu sebenarnya adalah api yang membakar, sedangkan yang terlihat api oleh manusia, itu sebenarnya adalah air yang dingin dan segar. Barangsiapa di antara kalian bertemu dengan Dajjal, hendaklah ia menjatuhkan pilihannya pada api, karena sesungguhnya itu adalah air yang segar dan baik.” Kemudian Abu Mas’ud berkata: ”Saya pun telah mendengar berita yang seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Dajjal akan keluar kepada umatku dan akan berdiam selama empat puluh. Saya tidak tahu apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun. Kemudian Allah mengutus Isa bin Maryam seakan-akan ia Urwah bin Mas’ud. Maka ia mencari Dajjal lalu membinasakannya. Setelah itu manusia tinggal di bumi selama tujuh tahun, tiada rasa permusuhan di antara dua orang. Kemudian Allah mengirim angin yang dingin dari arah Syam, maka tiada seorang pun yang dihatinya terdapat sebiji sawi kebaikan atau iman yang tinggal di bumi melainkan pasti mati, sehingga andai salah seorang di antara kamu masuk ke dalam perut gunung, angin tadi akan tetap masuk dan mencabut nyawanya.” Saya mendengar pula Rasulullah saw., beliau bersabda: ”Maka tinggallah manusia-manusia jahat (yang hidup) dalam kesigapan burung dan berakal binatang busa, mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Maka setan menjelma (sebagai manusia) di hadapan mereka lalu bertanya: ”Tidakkah kalian mau memerintahkan mereka agar menyembah berhala, sedang pada waktu itu rezeki mereka berlimpah dan kehidupan mereka terjamin. Kemudian ditiuplah sangkakala, maka tiada seorang pun yang mendengarnya melainkan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Orang yang mendengarnya pertama kali ialah orang yang sedang memperbaiki sawahnya, lalu mati dan manusia pun mati semua. Setelah itu Allah menurunkan hujan yang seperti air susu, lalu tumbuhlah jasad-jasad manusia. Kemudian sangkakala ditiup lagi, maka mereka berdiri dan menunggu. Setelah itu diserukan: ”Hai manusia, kemarilah menghadap Tuhanmu! Suruh mereka berdiri karena mereka akan ditanyai.” Lalu diserukan pula: ”Keluarkanlah rombongan yang ke neraka.” Maka ditanyakan: ”Berapa?” Dijawab: ”Dari setiap seribu, dikeluarkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ke neraka dan satu untuk ke surga.” Hari itulah yang menjadikan anak-anak berubah dan hari betis disingkapkan.”(HR. Muslim)
4. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Tidak ada satu daerah pun yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah, tiada satu jalan bukit pun di Madinah melainkah di sana ada malaikat yang berjajar menjaganya, maka Dajjal berhenti di tanah yang lembab kemudian Madinah digoncang gempa tiga kali, semua orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju tempat Dajjal.”(HR. Muslim)
5. Dari Anas ra. Bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: ”Orang Yahudi Isbahan sebanyak tujuh puluh ribu lengkap dengan pakaian seragamnya akan selalu mengikuti Dajjal.”(HR. Muslim)
6. Dari Ummu Syarik ra. Bahwasannya ia mendengar Nabi saw. bersabda: ”Sungguh, manusia akan berlari ke gunung-gunung menghindari Dajjal.” (HR. Muslim)
7. Dari Imran bin Hushain ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tiada suatu makhluk pun sejak diciptakannya Nabi Adam sampai hari kiamat yang besarnya melebihi Dajjal.”(HR. Muslim)
8. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. Dari Nabi saw., beliau bersabda: “Waktu Dajjal keluar, ada seorang mukmin yang menuju ke arahnya. Ia disambut oleh pengawal-pengawal Dajjal yang bersenjata pedang. Mereka bertanya: “Kamu mau ke mana?” Ia menjawab: “Saya akan menemui orang yang keluar ini.” Mereka bertanya lagi: “Apa kamu beriman kepada Tuhan kami?” Ia menjawab: ”Tiada kesamaran sedikit pun pada Tuhan kami.” Mereka berkata: ”Bunuh saja dia!” Sebagiannya berkata:”Bukankah Tuhan telah melarang kalian membunuh seorang pun selain dari perintahnya?” Maka mereka membawanya ke Dajjal. Ketika orang mukmin itu melihatnya, ia berkata: ”Hai manusia, ini adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah saw.” Maka Dajjal memerintahkan agar lelaki itu dibelenggu, katanya: ”Tangkap dan pecahkan kepalanya!” Akhirnya punggung dan kepalanya dipukuli. Setelah itu Dajjal bertanya: ”Apakah kamu beriman kepadaku?” Ia berkata: ”Kamu adalah Al Masih yang pendusta.” Maka diperintahkan agar ia digergaji dari tengah kepalanya (dibelah) sehingga kedua belah kakinya terpisahkan, lalu Dajjal berjalan di antara kedua belah tubuh itu lantas berkata: ”Berdirilah!” Orang itu berdiri tegak terus Dajjal bertanya: ”Apakah kamu beriman kepadaku?” Ia menjawab: ”Aku hanya bertambah yakin mengenal dirimu.” Kemudian orang mukmin itu berkata lagi: ”Hai manusia, sesungguhnya ia tidak akan dapat berbuat lagi terhadap seorangpun sesudah aku.” Maka Dajjal menangkapnya untuk disembelih, ia meletakkan tembaga di batang tenggotokan orang tadi, tetapi tidak mau menyembelihnya, maka Dajjal memegang kedua tangan dan kakinya lantas melemparkannya ke neraka, padahal ia dilemparkan ke surga.” Setelah Rasulullah saw. bersabda lagi: ”Ini adalah manusia yang paling hebat kesaksiannya disisi Tuhan semesta alam.”(HR. Muslim) Bukhari juga meriwayatkan sebagian hadis ini dengan pengertian maksud yang sama.
9. Dari Al Mughirah bin Syu’bah ra., ia berkata: Tiada seorang pun yang menanyakan kepada Nabi saw. tentang Dajjal lebih banyak dari apa yang aku tanyakan. Beliau bersabda: ”Apa persoalanmu?” Saya berkata: ”Mereka berkata bahwa ia mempunyai gunung roti dan sungai air.” Beliau bersabda: ”Dia lebih rendah bagi Allah daripada hal itu.”(HR. Bukhari dan Muslim)
10. Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tiada satu Nabi pun melainkan sudah memperingatkan kaumnya terhadap pendusta yang buta sebelah. Ingat, sesungguhnya dia (Dajjal) itu buta sebelah, sedang Tuhanmu Yang Maha Mulia lagi Maha Agung tidak buta sebelah, dan diantara kedua matanya (Dajjal) tertulis kaaf fa’ ra.”(HR. Bukhari dan Muslim)
11. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Maukah aku jelaskan kepada kalian suatu berita tentang Dajjal yang belum pernah dijelaskan oleh Nabi kepada umatnya. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah, dan sesungguhnya ia akan muncul dengan membawa semacam surga dan neraka. Sesuatu yang dikatakan surga oleh Dajjal itu sebenarnya adalah neraka.”(HR. Bukhari dan Muslim)
12. Dari Ibnu Umar ra. bahwa dihadapan orang banyak Rasulullah saw. pernah bercerita tentang Dajjal, sabdanya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak buta sebelah. Ingat, Dajjal itu buta matanya yang kanan, dan matanya seperti buah anggur yang menyembul.”(HR. Bukhari Muslim)
13. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kiamat tidak akan tiba sebelum kaum muslimin berperang dengan yahudi, maka kaum muslimin dapat mengalahkan mereka sampai ada kaum yahudi yang bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tadi berkata: “Hai Muslim, hai hamba Allah, ini ada orang yahudi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia!” Kecuali pohon gharqad (sejenis pohon berduri), karena ia pohonnya orang yahudi.”(HR. Bukhari dan Muslim)
14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan- Nya, dunia tidak akan hancur sehingga ada orang melewati kubur orang lain, maka dia berhenti lalu berkata: “Alangkah senangnya jika aku yang menjadi penghuni kubur ini,” dan demikian itu bukan ajaran agama, hanya karena beratnya cobaan di dunia.”(HR. Bukhari dan Muslim)
15. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hari kiamat tidak akan datang sebelum sungai Efrat memunculkan suatu bukit emas yang menimbulkan perang, dimana setiap seratus orang akan mati sembilan puluh sembilan, dan masing-masing orang di antara mereka itu berkata: “Semoga saya yang selamat.” Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Sungai Efrat nyaris memunculkan emas yang disimpannya, barangsiapa yang mendapatkannya, maka janganlah ia mengambil sesuatu daripadanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang akan meninggalkan Madinah dalam keadaan yang sangat baik, tiada yang ketinggalan kecuali binatang dan burung yang mampu mencari makan ke sana ke mari. Orang yang terakhir meninggalkan Madinah adalah dua pengembala dari Muzainah yang masuk ke Madinah memanggil-manggil kambingnya, tiba-tiba mereka mereka bertemu dengan binatang buas, sehingga ketika mereka sampai di Tsaniyatul Wada’ mereka jatuh tersungkur.”(HR. Bukhari dan Muslim)
17. Dari Abu Sa’id Al Khudriy ra. bahwasannya Nabi saw bersabda: “Nanti pada akhir zaman ada di antara pemimpinpemimpin kalian yang menabur-naburkan uang dan tidak bisa dihitung.”(HR. Muslim)
18. Dari Abu Musa Al Asy’ariy ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana seseorang berkeliling mengedarkan sedekah yang berupa emas, tetapi tidak ada seorang pun yang bersedia menerimanya. Dan akan kelihatan seorang laki-laki diikuti oleh empat puluh perempuan yang ingin berlindung kepadanya, karena sedikitnya orang laki-laki dan banyaknya orang perempuan.”(HR. Muslim)
19. Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw., beliau bersabda: ”Ada seseorang membeli sebidang tanah kepada orang lain, kemudian orang yang membeli sebidang tanah itu menemukan sebuah bejana yang berisi emas di kawasan tanah yang dibelinya itu, maka orang yang membeli tanah itu berkata kepada orang yang menjualnya: ”Ambillah emasmu karena sesungguhnya saya hanya membeli tanah kepadamu dan tidak membeli emas.” Orang yang menjual tanah menjawab: ”Saya menjual tanah dan semua yang terkandung di dalamnya kepadamu.” Kemudian mereka membawa permasalahannya itu kepada seorang hakim, maka orang yang mengadili itu bertanya: ”Apakah masing-masing dari kalian mempunyai anak?” Salah seorang di antara keduanya berkata: ”Saya mempunyai anak laki-laki,” dan yang seorang lagi berkata: ”Saya mempunyai anak perempuan.” Kemudian si hakim berkata: ”Nikahkan saja anak laki-laki itu dengan anak perempuan, serta berikanlah emas itu agar dapat dimanfaatkan oleh mereka.”(HR. Bukhari dan Muslim)
20. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: ”Ada dua orang perempuan yang masing-masing mempunyai anak, kemudian datanglah seekor serigala dengan membawa salah seorang anak itu, lantas salah seorang di antara perempuan itu berkata kepada yang lain: ”Serigala itu membawa anakmu.” Kemudian mereka menghadap kepada Nabi Dawud as. untuk minta keadilan, dan Nabi Dawud memenangkan perempuan yang lebih tua itu. Maka keduanya mengajukan permasalahannya kepada Nabi Sulaiman bin Dawud as. kemudian Nabi Sulaiman bersabda: ”Ambilkan pisau dan aku akan membelah anak itu menjadi dua.” Perempuan yang lebih muda berkata: ”Janganlah engkau membelah anak itu, semoga Allah memberi rahmat kepadamu. Anak itu adalah anaknya.” Kemudian Nabi Sulaiman memutuskan bahwa anak itu adalah anak perempuan yang lebih muda.”(HR. Bukhari dan Muslim)
21. Dari Mirdas Al Anshariy ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: ”Orang-orang yang salih akan pergi (meninggal dunia) satu persatu, sehingga yang tersisa hanyalah orangorang yang seperti ampas gandum atau kurma, dimana Allah tidak akan menghiraukan mereka sedikit pun.”(HR. Bukhari)
22. Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqiy ra., ia berkata: Jibril datang kepada Nabi saw. dan bertanya: ”Bagaimana pandanganmu tentang orang-orang yang mengikuti perang Badar di antara kamu sekalian?” Beliau menjawab: ”Mereka termasuk umat Islam yang paling utama.” Kemudian Jibril berkata: ”Demikian juga para malaikat yang mengikuti perang Badar.”(HR. Bukhari)
23. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Apabila Allah Ta’ala mendatangkan siksaan kepada suatu umat, maka siksaan itu menimpa seluruh orang yang ada di situ, kemudian mereka nanti dibangkitkan sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.”(HR. Bukhari dan Muslim)
24. Dari Jabir ra., ia berkata: ”Ada sebuah tonggak batang kurma yang biasa dijadikan tempat berdiri oleh Nabi saw. (sewaktu beliau berkhutbah). Ketika dibuatkan mimbar, kami mendengar suara tonggak itu seperti suara rintihan anak unta, sehingga Nabi saw, turun dan meletakkan tangannya pada tonggak itu lantas diamlah tonggak itu.” Dalam riwayat yang lain dikatakan: ”Ketika hari Jumat tiba, Nabi saw. duduk di atas mimbar, kemudian menjeritlah batang kurma yang biasa beliau berkhutbah di atasnya, sehingga batang kurma itu nyaris terbelah.” Dalam riwayat lain dikatakan: ”Tonggak batang kurma itu menjerit seperti jeritan anak kecil. Kemudian Nabi saw. turun dan mengambil serta mendekapnya, lantas terdengarlah rintihan seperti rintihan anak kecil yang didiamkan dari tangisnya, sehingga tonggal itu diam.” Beliau bersabda: ”Tonggak batang kurma itu menangis karena ia tidak akan mendengar khutbah lagi.”(HR. Bukhari)
25. Dari Abu Tsa’labah Al Khusyanniy Jurtsum bin Natsir ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda: ”Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kamu menyia-nyiakan, Allah telah menetapkan beberapa batasan, maka janganlah kamu melanggarnya. Allah telah mengharamkan beberapa hal, maka janganlah kamu mengabaikannya. Allah diam terhadap beberapa hal adalah sebagai rahmat bagi kalian, bukan karena lupa. Oleh sebab itu janganlah kalian membicarakan lebih jauh.”(HR. Daruquthni dan lain-lain)
26. Dari Abdullah bin Abu Aufa ra., ia berkata:“Kami mengikuti tujuh kali peperangan di bawah pimpinan Rasulullah saw., kami semua makan belalang.” Dalam riwayat lain dikatakan:”Kami makan belalang bersama-sama dengan Rasulullah saw.”(HR. Bukhari dan Muslim)
27. Dari Abu Hurairah ra. Bahwasannya Nabi saw. bersabda:”Orang mukmin tidak akan tersesat (terjerumus) dua kali dari lubang yang sama.”(HR. Bukhari dan Muslim)
28. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: ”Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah kelak pada hari kiamat. Allah tidak melihat dan tidak mensucikan mereka dan mereka akan memperoleh siksa yang pedih, yaitu : Orang yang mempunyai kelebihan air di tanah, tetapi ia tidak memberi perantau (musafir) yang membutuhkan. Orang yang menjual barang dagangan kepada orang lain sesuadah Asar, ia bersumpah atas nama Allah bahwa ia mengambil barang dagangan itu dengan harga sekian, lalu ia menyedekahkannya (kepada pembeli), padahal kenyataannya bukanlah demikian. Orang yang berjanji setia kepada seorang pemimpin hanya karena kepentingan duniawi. Jika pimpinan itu memberinya harta dunia, maka ia penuhi janjinya, tetapi kalau pimpinan tidak memberikan apa-apa, ia pun tidak memenuhi janjinya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
29. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: ”Antara tiupan sangkakala adalah empat puluh.” Orang-orang bertanya: ”Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab: ”Saya tidak akan menjelaskannya.” Mereka bertanya: ”Empat puluh tahun?” Abu Hurairah menjawab: ”Saya tidak akan menjelaskannya.” Mereka bertanya: ”Empat puluh bulan?” Abu Hurairah menjawab: ”Saya tidak akan menjelaskannya. Semua anggota tubuh manusia itu akan binasa kecuali tulang ekornya dimana dari tulang ekor itulah anggota tubuh akan disusun kembali. Kemudian Allah menurunkan hujan dari langit, lantas bangkitlah semua manusia dengan serentak sebagaimana tumbuhnya biji tanaman yang disebar.”(HR. Bukhari Muslim)
30. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: ”Ketika Rasulullah saw. sedang dalam perjalanan, suatu majlis berbincang dengan sekelompok orang (para sahabat), datanglah kepada beliau seorang desa yang lantas saja bertanya: ”Kapankah hari kiamat itu?” Rasulullah saw. meneruskan pembicaraannya. Sebagian orang berbisik: Beliau (Rasulullah) mendengar apa yang ditanyakan orang itu, tetapi beliau tidak suka apa yang ditanyakan itu.” Yang lain berkata: ”Tidak, beliau tidak mendengar.” Setelah pembicaraan beliau selesai, beliau bertanya: ”Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Orang yang bertanya menyahut: ”Ini aku wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda: ”Apabila amanat telah disiasiakan, maka tunggulah hari kiamat.” Orang itu bertanya: ”Bagaimana menyia-nyiakan amanat itu?” Rasulullah bersabda: ”Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat.”(HR. Bukhari)
31. Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: ”Mereka (para imam) itu di dalam memimpin salat sangat menguntungkan kamu, dimana bila mereka benar maka kamu beruntung, bila mereka salah maka kamu beruntung, dan mereka sendirilah yang menanggung kesalahan/dosanya.” (HR. Bukhari)
32. Dari Abu Hurairah ra. dengan menyitir firman Allah yang berbunyi: ”KUNTUM KHAIRA UMMATIN UKHRIJAT LINNAAS (Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia).” Ia berkata: ”Sebaik-baik manusia ditengahtengah manusia adalah mereka yang datang dengan leher dirantai, kemudian mereka masuk Islam.”(HR. Bukhari)
33. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung kagum terhadap orang-orang yang dipaksa masuk surga dengan rantai.” (HR. Bukhari) Maksudnya, mereka ditawan dan diikat dengan rantai kemudian mereka masuk Islam dan masuk surga.
34. Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Tempat yang paling disukai Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.” (HR.Muslim)
35. Dari Salman Al Farisi ra. –diantara perkataannya-: “jika kamu mampu, janganlah sekali-kali kamu merupakan orang pertama yang memasuki pasar dan orang yang terakhir keluar darinya. Sebab, pasar adalah medan pertemuan setan dan di sana ditegakkan bendera setan.” (HR. Muslim) Sementara itu Al Burqaniy meriwayatkan dalam kitab Sahihnya, dari Salman yang berkata: “Rasulullah saw. pernah bersabda: “Janganlah kamu menjadi orang yang pertama memasuki pasar dan orang yang terakhir keluar dari sana, di sanalah setan bertelur dan beranak.”
36. Dari Ashim al Ahwal dari Abdullah bin Sarjis ra., ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw.: “ Wahai Rasulullah semoga Allah mengampuni Engkau.” Beliau bersabda: “Dan semoga Allah juga mengampuni kamu.” Ashim bertanya kepada Abdullah: “Apakah Rasulullah memohonkan ampun untuk kamu? Abdullah menjawab: “Ya, dan bagimu pula.” Kemudian ia membaca ayat: WASTAGHFIR LIDZANBIKA WALIL MU’MINIINA WAL MU’MINAAT (dan mohonlah ampun untuk dosamu serta dosa degenap orang mukmin laki-laki dan perempuan).” (HR. Muslim)
37. Dari Abu Mas’ud Al Anshariy ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Di antara apa yang dapat ditemukan dari perkataan kenabian yang pertama adalah, apakah kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
38. Dari Ibnu mas’ud ra., ia berkata Nabi saw. bersabda: “Pertama kali yang diadili di antara kalian banyak urusan manusia pada hari kiamat nanti adalah masalah pertumpahan darah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
39. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepadamu.” (HR. Muslim)
40. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: “Budi pekerti Nabiyullah saw. adalah Al-Qur’an”. (HR. Muslim)
41. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa merasa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya. Dan barangsiapa tidak suka berjumpa dengan Allah, maka Allah pun tidak suka berjumpa dengannya.”Saya (‘Aisyah) bertanya: “Apakah yang dimaksud dengan tidak suka berjumpa dengan Allah itu tidak suka kematian? Bukankah kita semua tidak suka kematian?” Rasulullah bersabda: “Bukan demikian! Tetapi, orang mukmin yang apabila diberi kabar gembira dengan rahmat Allah dan keridhaan-Nya serta surga-Nya, ia senang bertemu Allah, maka Allah juga senang bertemu dengannya. Sedangkan orang kafir, manakala diberitahu tentang siksa Allah dan murka-Nya, ia tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim)
42. Dari Ummul Mukminin (Shafiyyah) binti Huyaiy ra., ia berkata: “Sewaktu Nabi saw. sedang I’tikaf pada suatu malam, saya datang mendekatinya. Ketika selesai berbicara dengan beliau saya bangkit untuk kembali, beliau lantas bangkit mengantarkan saya, di situ ada sahabat Anshar ra. berjalan. Ketika kedua sahabat itu melihat Nabi saw. mereka mempercepat jalannya. Maka Nabi saw. bersabda: “Waspadalah, sesungguhnya ini Shafiyyah bin Huyaiy.” Kemudian mereka berkata: “Maha Suci Allah, wahai Rasulullah.” Beliau lantas bersabda: “Sesungguhnya setan itu berjalan di badan anak Adam (manusia) bersama dengan jalannya darah. Oleh karena itu aku khawatir kalau setan itu menyusupkan kejahatan ke dalam hatimu, atau mengatakan sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
43. Dari Fahd (Al Abbas) bin Abdul Muthalib ra., ia berkata: “ Saya ikut bersama Rasululllah saw. pada hari perang Hunain. Saya dan Abu Sufyan bin Al Harits bin abdil Muthalib selalu menyertai Rasulullah saw. tak pernah berpisah. Rasulullah saw. berada di atas keledai putihnya. Ketika kaum muslimin dan orang-orang musyrik saling berhadapan dalam pertempuran, ternyata kaum muslimin berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Melihat itu, Rasulullah mengeprak keledai beliau ke arah orang-orang kafir. Sementara itu saya memegang kendali keledai beliau, mencoba mengekangnya, agar tidak terlalu cepat. Sedangkan Abu Sufyan memegang bekal bawaan Rasulullah saw. lalu beliau bersabda: “Wahai Abbas! Panggillah sahabat yang berbaiat di bawah pohon Samurah!” Abbas yang keras suaranya segera berteriak dengan suara lantang: “Mana Ashhabus Samurah (orangorang yang telah berbaiat di bawah pohon Samurah)?. Demi Allah! Ketika mereka mendengar suaraku, bagaikan sapi mendengar suara anak-anaknya, dan segera mereka menyahut: “YA LABAIK, YA LABAIK.” (Ungkapan untuk menyahuti panggilan). Maka bertempurlah mereka dengan orang-orang kafir. Panggilan pun merembet ke kalangan orang-orang Anshar. “Hai orang-orang Anshar!” kemudian panggilan di khususkan kepada Bani Harits bin Khazraj. Saya (Abbas) melihat Rasulullah saw. yang berada di atas keledainya, seperti orang yang memanjang-manjangkan tubuh (supaya dapat melihat jauh) ke arah pertempuran. Lalu beliau bersabda: “Ini adalah waktu panasnya dapur (pertempuran sengit).” Kemudian Rasulullah saw. mengambil batu-batu kerikil, lalu melemparkannya ke arah orang-orang kafir, seraya mengucap: “Terusirlah kalian, demi Tuhan Muhammad!” Saya (Abbas) pergi melihat, ternyata peperangan tetap pada keadaan menurut apa yang saya lihat. Demi Allah, pertempuran mereka menjadi tumpul setelah Rasulullah melemparkan batu-batu ke arah orang-orang kafir. Terus –menerus saya melihat kekuatan mereka semakin susut dan akhirnya mereka pun lari lintang pangkang.” (HR. Muslim)
44. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala telah berfirman: “Wahai para Rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (yang baik dan halal) dan beramal baiklah kalian.” Dan Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” Kemudian Rasulullah saw. menuturkan tentang seorang lelaki yang panjang perjalanannya (dalam ibadah), kusut rambutnya dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannnya ke langit seraya mengucap: “Ya Rabbi, Ya Rabbi,” sementara itu makanan dan minumannya, pakaiannya haram, disuapi dengan makanan haram (pada waktu kecilnya), lalu bagaimana bisa dikabulkan doa lelaki tersebut.” (HR. Msulim)
45. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga macam orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah kelak pada hari kiamat, Allah tidak mensucikan mereka dan tidak pula memandang mereka, mereka mendapat siksa yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, penguasa yang suka bohong dan orang kafir yang sombong.” (HR. Muslim) Bab Cerita dalam Hadits
46. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Saihan, Jaihan, Efrat dan Nil kesemuanya adalah sungai-sungai surga.” (HR. Muslim)
47. Dari Abu Hurairah., ia berkata: Rasulullah saw. memegang tanganku lantas bersabda: “Allah menciptakan tanah pada hari Sabtu, menciptakan gunung di tanah itu pada hari Ahad, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan apa yang tidak disukai pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan binatang-binatang pada hari Kamis, dan menciptakan Adam saw. asarnya hari Jum'at pada saat terakhir dari waktu siang, yakni saat antara waktu Asar sampai masuknya waktu malam.” (HR. Muslim)
48. Dari Abu Sulaiman Khalid bin Al Walid ra., ia berkata: “Telah putus di tanganku pada waktu perang Muktah sembilan pedang dan yang tahan di tanganku hanyalah pedang dari Yaman.” (HR. Bukhari)
49. Dari Amr bin Ash ra., bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang hakim memutuskan suatu hukum dan berijtihad kemudian ia benar maka, ia mendapatkan dua pahala. Sedangkan apabila ia memutuskan suatu hukum dan ia berijtihad kemudian ia salah, maka ia mendapatkan satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
50. Dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Sakit panas itu adalah termasuk uapnya neraka Jahannam, maka dinginkanlah dengan air.” (HR. Bukhari dan Muslim) Bab Cerita dalam Hadits
51. Dari ‘Aisyah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai hutang puasa, maka walinya hendaklah berpuasa untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
52. Dari Auf bin Malik bin Ath Thufail bahwasanya ‘Aisyah ra. diberitahu bahwa Abdullah bin Zubair ra. menanggapi tentang apa yang dibeli atau diberikan oleh ‘Aisyah ra. dimana Abdullah berkata: “Demi Allah, ‘Aisyah harus menghentikan tindakannya itu atau saya yang belanjanya?” ‘Aisyah bertanya: “Benarkah Abdullah mengatakan yang demikian itu?” Orang-orang menjawab: “Benar.” ‘Aisyah berkata: “Demi Allah, saya bernazar untuk tidak berbicara dengan Ibnu Zubair selama-lamanya.” Ketika lama Ibnu Zubair tidak diajak bicara oleh ‘Aisyah, ia berusaha minta tolong kepada orang lain agar ‘Aisyah mau mengajak bicara; tetapi ‘Aisyah berkata: “Tidak, demi Allah, saya tidak akan menerima permintaannya selama-lamanya. Saya tidak akan melanggar nazar saya.” Ketika hal yang demikian itu telah berlangsung lama, maka Ibnu Zubair minta tolong kepada Al Miswar bin Makhzamah dan Abdurrahman bin Al Aswad bin Abdu Yaghuts, dimana ia berkata kepada keduanya: “Saya meminta kamu berdua dengan nama Allah usahakanlah agar saya dapat kalian bawa masuk ke rumah ‘Aisyah ra., karena memang sesungguhnya tidak halal baginya untuk bernazar memutuskan hubungan dengan saya.” Kemudian Al Miswar dan Abdurrahman membawa Ibnu Zubair ke rumah ‘Aisyah dan sesampainya di sana mereka minta izin serta mengucapkan salam: “Assalaamu’alaiki warahmatullahi wabarakatuhu, bolehkah kami masuk? ‘Aisyah menjawab “ Silahkan masuk”. Mereka berkata: “Kami semua boleh masuk?” ‘Aisyah menjawab: “Masuklah semua.” ‘Aisyah tidak mengetahui bahwa di antara mereka ada Ibnu Zubair. Ketika mereka telah masuk rumah, Ibnu Zubair langsung masuk ke dalam hijab dan mendekap ‘Aisyah dengan meminta maaf dan menangis, sedangkan Al Miswar dan Abdurrahman meminta dengan sangat agar ‘Aisyah mau mengajak bicara dan menerima permintaan Ibnu Zubair dan keduanya itu mengatakan bahwasanya Nabi saw. melarang terhadap sikap ‘Aisyah yang mendiamkan Ibnu Zubair, dan tidaklah halal bagi seorang muslimin mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam. Ketika banyak-banyak mereka memperingatkan dan menyadarkan ‘Aisyah, maka ia pun sadar dan menangis serta berkata: “Sesungguhnya saya telah bernazar, sedangkan nazar itu adalah sesuatu yang sangat berat.” Kedua orang itu selalu mendesak agar ‘Aisyah mau berbicara dengan memerdekakan empat puluh budak. Dan setelah itu bila sewaktu-waktu ‘Aisyah ingat terhadap nazarnya itu, ia terus menangis sehingga air matanya membasahi kerudungnya.” (HR. Bukhari)
53. Dari Ubah bin Amir ra. bahwasanya Rasulullah saw. keluar ke tempat pemakaman orang-orang yang mati syahid dalam perang Uhud, kemudian beliau mendoakan mereka setelah delapan tahun dari keguguran mereka, seperti orang yang mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang masih hidup dan yang sudah mati. Beliau lantas naik ke atas mimbar dan bersabda: “Sesungguhnya aku maju di depan kamu sekalian, aku menjadi saksi bagi kamu sekalian, dan janji bagi kamu sekalian adalah telaga dan sesungguhnya aku melihat telaga itu dari tempat ini. Sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kamu sekalian saling berlomba dalam masalah dunia.” Uqbah berkata: “Itulah yang terakhir kalinya saya melihat Rasulullah saw.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan: “Tetapi aku mengkhawatirkan kamu sekalian dalam masalah dunia, dimana kamu sekalian akan saling berlomba dan bunuh membunuh, sehingga kamu sekalian akan binasa sebagaimana binasanya umat sebelum kamu.” Uqbah berkata: “itulah yang terakhir kalinya saya melihat Rasulullah saw. di atas mimbar.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya aku akan maju di depan kamu, aku menjadi saksi bagi kamu sekalian. Sesungguhnya demi Allah aku sekarang telah melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci (kekayaan) bumi. Dan sesungguhnya demi Allah aku tidak mengkhawatirkan kamu sekalian dari syirik sesudah aku nanti, tetapi aku mengkhawatirkan kamu sekalian saling berlomba dalam masalah dunia.”
54. Dari Abu Zaid (Amr bin Akhtab Al Anshariy ra.), ia berkata: “Kami salat Subuh bersama-sama dengan Rasulullah saw., kemudian beliau naik mimbar dan berkhutbah hingga datang waktu Dhuhur, kemudian beliau turun dan mengerjakan salat. Setelah itu beliau naik mimbar lagi dan berkhutbah hingga datang waktu Asar, kemudian beliau turun dan mengerjakan salat. Setelah itu beliau naik mimbar lagi hingga terbenam matahari. Beliau memberitahukan kepada kami segala apa yang telah lalu dan yang sedang berlangsung maupun yang akan terjadi. Orang yang paling pandai adalah orang yang paling kuat hafalannya di antara kami.” (HR. Muslim)55. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang bernazar untuk taat kepada Allah, maka ia harus mentaati (melaksanakan) nazarnya itu, tetapi barangsiapa yang bernazar untuk durhaka kepada Allah, maka ia tidak boleh durhaka kepada-Nya.” (HR. Bukhari)
56. Dari Ummu Syarik ra. bahwasanya Rasulullah saw. memerintahkan kepadanya untuk membunuh cecak, dan beliau bersabda: “Cecak itu dulu selalu meniup-niupkan api sewaktu Nabi Ibrahim dibakar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
57. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa membunuh cecak pada pukulan pertama, maka ia mendapat kebaikan (pahala) sekian dan sekian. Barangsiapa yang membunuhnya pada pukulan yang kedua, maka ia mendapat kebaikan (pahala) sekian dan sekian, kurang dari yang pertama. Dan apabila ia membunuhnya pada pukulan yang ketiga, maka ia mendapat kebaikan (pahala) sekian dan sekian.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Barangsiapa yang membunuh cecak pada pukulan yang pertama, maka dituliskan baginya seratus kebaikan (pahala), apabila membunuhnya pada pukulan yang kedua, maka kurang dari itu, dan apabila membunuhnya pada pukulan yang ketiga maka kurang dari itu.” (HR. Muslim)
58. Dari Abu Hurairah ra., beliau bersabda: Ada seseorang berkata: “Sungguh saya akan menyediakan sesuatu.” Ia lantas pergi untuk menyediakan sesuatu itu dan ia berikan kepada seorang pencuri. Kemudian pagi harinya orang-orang ramai membicarakan bahwa tadi malam ada sedekah yang diberikan kepada pencuri. Kemudian orang itu berkata: “Ya Allah, hanya bagi-Mulah segala puji; sungguh saya akan menyedekahkan sesuatu.” Ia lantas pergi untuk menyedekahkan sesuatu itu dan ia berikan kepada seorang perempuan pelacur. Kemudian pagi harinya orang-orang ramai membicarakan bahwa tadi malam ada sedekah yang diberikan kepada perempuan pelacur. Kemudian orang itu berkata: “Ya Allah, bagi-Mulah segala puji, sungguh saya akan menyedekahkan sesuatu.” Ia lantas pergi untuk menyedekahkan sesuatu itu dan ia berikan kepada seseorang yang kaya. Kemudian pagi harinya orang-orang ramai membicarakan bahwa tadi malam ada sedekah yang diberikan kepada orang kaya. Kemudian orang itu berkata: “Ya Allah, hanya bagi-Mulah segala puji, saya telah menyedekahkan kepada pencuri, perempuan pelacur dan orang kaya.” Kemudian ada suara yang ditujukan kepadanya: “Adapun sedekahmu kepada pencuri maka semoga ia segera memberhentikannya dari mencuri. Adapun kepada perempuan pelacur, maka semoga segera memberhentikan diri berzina. Adapun kepada orang kaya, semoga ia mau mengambil I’tibar dan semoga ia segera menafkahkan sebagian harta yang telah Allah karuniakan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dengan maksud yang sama)
59. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Kami bersama Rasulullah saw. berada dalam sebuah undangan makan. Disuguhkan kepada beliau paha yang membuat beliau takjub. Beliau mencicipinya satu gigitan dan bersabda: “Aku adalah pemimpin manusia kelak pada hari kiamat. Tahukah kalian apa yang sebab demikian?” Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian di suatu tempat, ada pengawas yang mengawasi mereka, maka sampailah manusia pada puncak kesusahan dan kepayahan yang tak kuasa mereka tangguhkan dan mereka pikul. Orang-orang berbicara sesama mereka: “Tidakkah kalian memperhatikan tempat diamana kalian berada, kepada apa yang menyampaikan kalian? Tidakkah kalian melihat orang yang dapat memberi syafaat kalian di hadapan Tuhan kalian?” Ada di antara mereka yang menyatakan: “Bapak kalian Adam” Mereka mendatangi Adam, lalu berkata : “Hai Adam Engkau adalah Bapak manusia. Allah menciptakanmu dengan tangan- Nya dan meniupkan kepada dirimu ruh-Nya. Dia memberitahukan malaikat, maka malaikat pun bersujud kepadamu. Dan Allah menempatkanmu di surga. Tidakkah Engkau akan memberi syafaat kepada kami di hadapan Tuhanmu? Tidakkah Engkau perhatikan kami dan kemana kami akan sampai?” Adam menjawab: “Sungguh, tuhanku marah dengan kemarahan yang belum pernah terjadi sebelumnya seperti itu dan tidak pula sesudahnya. Diriku, diriku, diriku pergilah kalian kepada selainku! Pergilah kepada Nuh! Maka orang-orang mendatangi Nuh, lalu berkata: “Engkau adalah Rasul pertama untuk penduduk bumi. Allah telah menyebutmu sebagai hamba yang banyak bersyukur. Tidakkah Engkau menyebutmu sebagai hamba yang banyak bersyukur. Tidakkah Engkau perhatikan keadaan kami? Tidakkah Engkau melihat kemana kami akan sampai? Tidakkkah Engkau akan memberikan syafaat kepada kami dihadapan Tuhan?” Nabi Nuh menjawab: “Sungguh, tuhanku marah hari ini dengan kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak pula terjadi sesudahnya seperti itu. Dan sesungguhnya saya telah membunuh jiwa yang tidak pernah diperintahkan kepada saya. Diriku, diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selainku. Pergilah kalian kepada Ibrahim.” Maka mereka berbondong-bondong mendatangi Nabi Ibrahim, lalu berkata: “Hai Ibrahim! Engkau adalah Nabiyullah dan kesayangan-Nya dari penduduk kami. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu! Tidakkah Engkau melihat keadaan kami?” Ibrahim berkata kepada kepada mereka: “Sungguh, tuhanku benar-benar marah hari ini, dengan kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi sesudahnya. Sedangkan aku telah berbuat kebohongan tiga kali. Oh diriku, diriku, diriku! Pergilah kepada selainku! Pergilah kepada Musa!” Maka orang-orang mendatangi Musa, lalu berkata: “Hai Musa! Engkau adalah Rasulullah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya atas manusia. Syafaatilah kami di hadapan tuhanmu! Tidakkah engkau melihat keadaan kami?” Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya tuhanku marah benar-benar hari ini, dengan kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi sesudahnya. Sedangkan aku pernah membunuh jiwa seseorang, padahal aku tidak diperintahkan membunuhnya. Diriku, diriku, diriku! Pergilah kalian kepada selainku! Pergilah kalian kepada Isa! Merekapun mendatangi Isa, lalu berkata: “Hai Isa! Engkau adalah Rasulullah kalimah- Nya yang disampaikan kepada Maryam, serta ruh daripada- Nya. Engkau telah berbicara kepada manusia selagi Engkau masih dalam buaian. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu! Tidakkah Engkau melihat keadaan kami?” Nabi Isa Menjawab: “Sesungguhnya Tuhanku marah benar-benar hari ini, dengan kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi sesudahnya, (beliau tidak menyebut dosa). Diriku, diriku, diriku! Pergilah kalian! Kepada selainku! Pergilah kalian kepada Muhammad saw. ! Akhirnya orangorang pun datang kepada Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah riwayat disebutkan: Orang-orang yang datang kepadaku (kepada Nabi Muhammad saw.), lalu berkata: “Hai Muhammad! Engkau adalah Rasulullah sang penutup para Nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang telah lewat dan dosa yang akan datang. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu! Tidakkah Engkau memperhatikan keadaan kami?” Aku (Rasulullah) pun berangkat datang ke bawah Arasy, lalu bersujud kepada tuhanku. Kemudian Allah membukakan untukku dari pujian-pujian dan baiknya sanjungan kepada-Nya, sesuatu yang tidak dibukakan kepada seorang pun selainku. Kemudian difirmankan: “Hai Muhammad saw.! Angkatlah kepalamu! Mintalah, Engkau bakal di beri. Berilah syafaat! Engkau diberi wewenang memberi syafaat.” Aku mengangkat kepalaku, lalu berkata: “Umatku, wahai Tuhan! Umatku wahai Tuhan, umatku wahai Tuhan!”Lalu difirmankan: “Hai Muhammad! Masukkanlah (dari umatmu) orang-orang yang tidak ada hisab atas mereka, dari pintu kanan di antara pintu-pintu surga. Sedangkan umatmu selebihnya masuk dari pintu-pintu surga selain pintu kanan itu.” Demi Allah, Zat yang menguasai diriku! Sungguh!, di antara dua sisi pintu dari sisi pintu surga, jaraknya bagaikan jarak antara Makkah dan Hajar(nama kota) atau seperti jarak antara Makkah dan Bushra(juga nama kota, dekat Damaskus).” (HR. Bukhari dan Muslim)
60. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Ibrahim saw. membawa ibu Ismail (Hajar) dan anaknya yakni Ismail dimana Hajar masih menyusukan anaknya, dan Ibrahim menempatkan hajar di dekat Baitullah di bawah pohon yang besar di atas Zamzam di sebelah atas Masjidil Haram. Waktu itu di Makkah belum ada manusia dan tidak ada air. Ibrahim menempatkan Hajar dan Ismail di sana dan hanya menyediakan satu kantung korma dan satu bejana berisi air. Kemudian Ibrahim meninggalkan tempat itu, maka ibu Ismail mengejarnya dan bertanya: “Wahai Ibrahim, kemanakah Engkau akan pergi dan kamu tinggalkan kami di lembah yang tidak seorang pun manusia dan tidak ada sesuatu?” Hajar berulang kali mengucapkan pertanyaan itu, tetapi Ibrahim tidak menghiraukannya. Hajar bertanya lagi: “Apakah Allah yang memerintahkan Engkau berbuat demikian?” Ibrahim menjawab: “Benar”. Hajar berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami,” kemudian Hajar kembali ke tempat semula. Ibrahim saw. melanjutkan perjalanannya, dan ketika sampai di Tsaniyah dimana istri dan anaknya sudah tidak melihatnya, ia menghadapkan mukanya ke arah Baitullah dengan mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: RABBI INNI ASKANTU MIN DZURRIYATII BIWAADIN GHAIRA DZII ZAR’IN ‘INDA BAITIKAL MUHARRAM, RABBANAA LIYUQIIMUSHSHALAATA FAJ’AL AF-IDATAMMINANNAASI TAHWII ILAIHIM WARZUQHUM MINATSTAMARAATI LA’ALLAHUM YASYKURUUN (Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati orang-orang condong ke sana dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur).” Ibu Ismail selalu meneteki dan minum dari air yang disediakan oleh Ibrahim hingga air yang berada di bejana itu habis, maka ia merasa haus dan haus pula anaknya. Hajar selalu memperhatikan anaknya yang nampak kehausan. Ia naik ke bukit Shafa dan melihat ke arah lembah kalau-kalau ia melihat seseorang, tetapi tidak melihatnya. Kemudian turun dari Shafa sehingga bilamana telah sampai ke lembah, ia memandang ke atas kemudian berjalan cepat dengan penuh semangat sampai melewati lembah yang agak keras jalannya, kemudian naik ke Marwah dan berdiri di atasnya untuk melihat-lihat kalau-kalau ada seseorang, tetapi ia tidak melihatnya. Hajar berbuat seperti itu tujuh kali. Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Oleh karena itulah mausia melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Ketika Hajar berada di atas Marwah (untuk yang ketujuh kalinya) ia mendengar suara yang mengatakan: “Tenanglah” yang ditujukan kepada dirinya. Ia memperhatikan suara itu dan ia mendengar lagi, lantas ia berkata: “Suaramu telah terdengar, kalau-kalau engkau membawa air tolonglah kami.” Tiba-tiba ada malaikat menggorek di dekatnya, yakni di tempat yang terkenal dengan Zamzam. Malaikat itu menggorek dengan telapak kakinya – ada yang mengatakan dengan sayapnya – sehingga keluarlah air, kemudian Hajar berusaha mengumpulkan air itu dan membatasinya dengan tangan serta mengisi bejananya itu. Mata air itu mengeluarkan air dengan derasnya setelah diambilnya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesuai dengan yang diambilnya.” Ibnu Abbas ra. mengatakan bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepada ibu Ismail. Seandainya ia membiarkan Zamzam, niscaya Zamzam itu menjadi sumber yang sangat besar manfaatnya.” Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya: “Kemudian Hajar dapat minum dan meneteki anaknya. Malaikat lantas berkata kepadanya: “Janganlah kamu khawatir akan disa-siakan, karena di sini ada Baitullah yang akan dibangun oleh anakmu ini beserta ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan penghuni (penjaga) Baitullah. Baitullah waktu itu hanya merupakan tanah yang agak tinggi seperti gardu, bila ada banjir maka airnya itu lewat di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian lewatlah di situ suatu rombongan dari suku Jurhum yang datang dari arah Kada’ dan berhenti di bawah Makkah. Mereka melihat ada burung yang terbang di situ, maka mereka berkata: “Sesungguhnya burung itu beterbangan di atas air, padahal sepanjang pengetahuan kami di lembah ini tidak ada air.” Kemudian mereka mengirim satu atau dua utusan penyelidik dan akhirnya mereka menemukan air. Para utusan itu kembali dan menceritakannya, mereka lantas mendekati sumber itu dan di situ ada ibu Ismail. Mereka bertanya: “Bolehkah kami tinggal di dekatmu?” ibu Ismail menjawab: “Boleh, tetapi kamu sekalian tidak berhak untuk menguasai air ini.” Mereka menjawab: “Baiklah.” Ibnu Abbas ra., mengatakan bahwasanya Nabi saw. bersabda: “Ibu Ismail merasa senang dengan datangnya keluarga besar Jurhum, karena ia suka bergaul. Maka bertempat tinggallah mereka dan mengajak pula kepada keluarganya untuk bersama-sama tinggal bersama dengan mereka , sehingga akhirnya di situ ada beberapa keluarga. Dan anak itu (Ismail) meningkat dewasa, ia mempelajari bahasa Arab kepada mereka dan ketika ia telah dewasa, ia sangat mengagumi mereka. Ketika ia telah menemukan seseorang di antara mereka untuk dijadikan istri, maka mereka segera mengawinkannya, dan wafatlah ibu Ismail. Sesudah ismail kawin, datanglah Ibrahim untuk melihat anaknya yang telah lama ditinggalkannya, tetapi ia tidak bertemu dengan ismail, kemudian ia menanyakan tentang keadaan ismail kepada istrinya, dan istrinya menjawab: “Ia sedang keluar untuk mencari rezeki untuk kami.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Ia sedang berburu untuk kami.” Kemudian Ibrahim menanyakan kepada istri Ismail tentang kehidupan dan keadaan mereka, dan dijawab oleh istri Ismail: “Keadaan kami sangat menyedihkan, kami berada dalam kesukaran,” ia mengeluh kepada Ibrahim. Kemudian Ibrahim berkata: “Bila suamimu datang, maka sampaikanlah salamku kepadanya, dan katakanlah kepadanya agar ia segera mengganti kayu pintunya yang sebelah bawah.” Ketika Ismail datang, ia merasa seolah-olah ada sesuatu, kemudian ia bertanya: “Apakah ada seseorang yang datang?” Istrinya menjawab: “Benar, tadi ada seseorang yang sudah tua, yang sifatnya begini, begitu datang ke sini. Ia menanyakan tentang keadaan kami dan sayapun menceritakannya. Ia menanyakan tentang kehidupan kami, maka saya pun memberitahukan bahwa kami dalam kehidupan yang sangat meyedihkan dan berada dalam kesulitan.” Ismail bertanya: “Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?” istrinya menjawab: “Ya, ia berpesan agar saya menyampaikan salam kepadamu, dan berpesan pula agar engkau segera mengganti kayu pintumu yang sebelah bawah.” Ismail berkata: “itu adalah ayahku, beliau memerintahkan kepadaku agar aku menceraikan kau, maka kembalilah kamu kepada keluargamu.” Kemudian ismail menceraikan istrinya itu dan kawin lagi dengan wanita Jurhum yang lain. Selang beberapa lama, Ibrahim datang lagi tetapi tidak bertemu Ismail, kemudian ia masuk dan bertanya kepada Istri Ismail, lalu dijawab: “Ia sedang keluar mencari rezeki untuk kami.” Ibrahim bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” serta menanyakan pula tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Ismail menjawab: “Kami berada dalam keadaan kemudahan dan kebahagiaan,” serta ia memuji kepada Allah. Ibrahim bertanya: “Apa yang biasa kamu makan?” Istri Ismail menjawab: “Daging.” Ibrahim bertanya: “Apakah yang biasa kamu minum?” Istri Ismail menjawab: “Air.” Ibrahim lantas berdo’a: “ALLAAHUMMA BAARIK LAHUM FILLAHMI WAL MA-I (Ya Allah, berkahilah mereka dalam makan daging dan minum air).” Nabi saw. bersabda: “Waktu itu Makkah belum ada biji-bijian, niscaya Ibrahim mendoakannya buat mereka.” Ibnu Abbas melanjutkan ceritanya: ‘Ibrahim datang dan bertanya: ‘Dimana Ismail?” Istri Ismail menjawab: “Ia sedang pergi berburu.” Istri Ismail berkata: “Silahkan masuk untuk makan dan minum.” Ibrahim bertanya: “Apakah yang biasa kamu makan dan kamu minum?” Istri Ismail menjawab: “Kami makan daging dan minum air.” Ibrahim lantas berdoa: ALLAAHUMMA BAARIK LAHUM FII THA’AMIHIM WASYARAABIHIM (Ya Allah, berkahilah mereka di dalam apa yang mereka makan dan mereka minum.” Ibnu Abbas mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad saw. bersabda: “Berkah do’a Ibrahim saw.”Ibrahim lantas bersabda: “Apabila suamimu datang, maka sampaikanlah salamku kepadanya dan suruhlah ia agar tetap mempertahankan kayu pintunya yang sebelah bawah.” Ketika Ismail datang, ia lantas bertanya: “Apakah ada seseorang yang datang?” Istrinya menjawab: “Benar, ada seseorang yang sudah tua dan sifatnya sangat baik kepada kami, menanyakan tentang keadaan kami, maka saya beritahukan bahwa kami berada dalam kebahagiaan.” Ismail bertanya: “Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?” Istrinya menjawab: “Ya, ia menyampaikan salam untuk engkau serta memerintahkan engkau agar mempertahankan kayu pintunya yang sebelah bawah.” Ismail berkata: “Itu adalah ayahku, dan kamulah yang diibaratkan sebagai kayu pintu itu. Beliau memerintahkan agar aku tetap mempertahankan kamu.” Kemudian setelah beberapa lama Ibrahim datang kembali, waktu itu Ismail sedang membuat anak panah, di bawah pohon besar yang berada di bawah Zamzam, ia segera bangkit mendekati ayahnya kemudian keduanya saling berpelukan sebagaimana layaknya seorang ayah dengan anaknya, kemudian Ibrahim bersabda: “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu perintah kepadaku.” Ismail berkata: “Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan Tuhan kepadamu.” Ibrahim bertanya: “Kamu mau membantu aku?” Ismail berkata: “Saya akan membantu engkau." Ibrahim bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk membangun sebuah rumah di sini.” Ibrahim menunjuk ke arah tanah yang agak tinggi yang berada di dekatnya. Dan ketika itulah Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah dan Ismail mengangkat batu itu. Ibrahim terus membangun sehingga ketika bangunan itu sudah cukup tinggi, maka Ismail mengambil satu batu untuk berdirinya Ibrahim. Sementara Ibrahim sedang membangun dan Ismail sedang mengangkat batu, keduanya berdo’a:”RABBANAA TAQABBAL MINNA INNAKA ANTAS SAMII’UL ‘ALIM(Wahai tuhan kami, terimalah apa yang kami perbuat ini, sesungguhnya Engkaulah Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Ibrahim keluar dengan membawa Ismail dan Ibu Ismail (Hajar) dengan membawa sebuah bejana yang berisi air, dimana Ibu Ismail selalu minum dari bejana itu sehingga air susu untuk anaknya dapat memancar dengan baik sampai ke Makkah, di sana diletakkan di bawah sebatang pohon besar. Kemudian Ibrahim meninggalkannya, lantas Ibu Ismail mengejarnya, sehingga ketika mereka sampai di Kada’ ibu Ismail memanggil Ibrahim dari arah belakang:”Wahai Ibrahim, kepada siapa engkau tinggalkan kami?”Ibrahim menjawab:”Kepada Allah.”Ibu Ismail berkata:”Saya rela dengan pemeliharaan Allah. Kemudian ibu Ismail kembali dan selalu minum dari bejana serta air susu untuk anaknya dapat memancar dengan baik, Ketika air persediaannya habis, ia berkata: “Lebih baik saya pergi dan naik ke Shafa, lantas melihat dan memperhatikan barangkali ia melihat seseorang, tetapi ia tidak melihatnya. Kemudian ia turun ke lembah dan berjlan cepat menuju ke Marwah. Hal yang demikian itu ia lakukan berulang kali. Kemudian ia berkata:”Lebih baik saya pergi melihat apa yang diperbuat anak saya itu.” Kemudian ia pergi dan melihat anaknya. Anak itu tetap seperti keadaan semula, bahkan seperti akan meninggal dunia karena kehausan. Maka Hajar tidak sampai hati dan berkata: “Lebih baik saya pergi dan melihat-lihat barangkali saya melihat seseorang.”Kemudian ia pergi dan naik ke Shafa dan memperhatikan sekelilingnya, tetapi ia tidak melihat seorang pun, sehingga sempurnalah tujuh kali ia mondar-mandir. Kemudian ia berkata:”Lebih baik saya pergi dan melihat apa yang sedang dikerjakan oleh anak saya.” Tiba-tiba ada suara di dekatnya, maka ia segera menyambutnya:”Kalau engkau mempunyai kebaikan, maka berilah kami air.”Waktu itu Jibril saw. mengorek-ngorek tanah dengan tumitnya, maka memancarlah air. Ibu Ismail sangat terkejut lantas ia membatasi air itu dengan kedua tanganya.”Hadis ini masih ada lanjutannya.(HR.BUKHARI)
61. Dari Said bin Yazid ra., ia berkata:”Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda:”Cendawan itu termasuk nikmat (yang banyak manfaatnya) dan air cendawan itu merupakan obat mata.”(HR.BUKHARI dan Muslim